Sunday, October 30, 2016

Ga Ribet Lagi, Sekarang Bayar Tilang Bisa Lewat Online!



Kepala Korlantas Polri Irjen Pol Agung Budi Maryoto menginisiasikan sistem pembayaran denda tilang daring (online) dengan tujuan memberantas pungutan liar (pungli) yang kerap dilakukan oleh oknum polisi lalu lintas.

"Sistem ini mengurangi hubungan langsung antara pelanggar lalin dengan petugas polisi. Ini upaya meningkatkan pelayanan publik yang lebih mudah dan berbasis IT (teknologi informasi)," kata Kakorlantas, di Jakarta, Selasa (25/10).

Menurutnya, Elektronik Tilang atau e-Tilang adalah aplikasi mobile yang berfungsi untuk melakukan pembayaran denda tilang secara daring. Dengan sistem e-Tilang, menurutnya, akan menghindari kemungkinan adanya pungli berupa kesepakatan antara polisi dengan pelanggar lalu lintas untuk menghindari tilang dengan memberikan sejumlah uang kepada petugas.

Pelanggar lalu lintas cukup mengunduh aplikasi e-Tilang yang tersedia di Google Playstore dan membayar denda tilang melalui m-Banking atau e-Banking. "Bisa juga bayar melalui ATM," katanya.

Ia menjabarkan alur transaksi dalam e-Tilang. Saat terjadi pelanggaran lalu lintas yang dilakukan pengendara atau pengemudi, maka polantas akan melakukan penilangan. Kemudian, polantas memasukkan data pelanggaran ke dalam aplikasi e-Tilang sehingga pelanggar mendapatkan nomor registrasi tilang.

Pelanggar yang memiliki aplikasi e-Banking atau m-Banking bisa langsung membayar denda tilang melalui aplikasi tersebut.

"Kalau sudah membayar (denda tilang), maka saat itu juga SIM dan STNK langsung dikembalikan oleh polisi kepada pelanggar. Jadi pelanggar langsung bisa melanjutkan perjalanan," katanya.

Jika pelanggar memakai sistem ini, kata dia, maka denda yang diberlakukan adalah denda maksimal. Kendati demikian, proses pengadilan tetap dilakukan sehingga bila pelanggar telah membayar melebihi denda yang seharusnya, maka kelebihan uang akan dikembalikan.

Agung merinci, setelah adanya putusan denda final pengadilan, bila pelanggar sudah membayar denda melebihi denda tilang yang ditetapkan pengadilan, kelebihan pembayaran akan ditransfer kembali ke rekening pelanggar.

"Kalau kelebihan bayar, pelanggar akan mendapat notifikasi SMS yang berisi kelebihan bayar. Bank akan melakukan transfer otomatis atas kelebihan bayar ini," katanya.

Pihaknya pun optimistis mampu menerapkan sistem e-Tilang di seluruh Indonesia. Kendati demikian, bagi masyarakat yang belum memiliki ponsel pintar, maka pembayaran denda tilang melalui bank seperti sebelumnya tetap bisa dilakukan. Untuk menjalankan sistem denda e-Tilang ini, pihaknya akan menggandeng Bank BNI.

Seperti diketahui, Hasil Indeks Persepsi Korupsi (IPK) 2015 yang diluncurkan Transparency International menempatkan Indonesia di urutan 88 dari 168 negara. Indonesia mendapat skor 36 dari total nilai 100. Semakin tinggi skor, persepsi bersih dari korupsi makin baik. 

Komisioner KPK, Laode Muhammad Syarif, mengatakan rendahnya IPK Indonesia itu paling banyak dipengaruhi oleh maraknya praktik pungli atau disebut korupsi kecil. KPK punya keterbatasan untuk memberantas pungli. Oleh karenanya Laode mengatakan butuh dukungan penuh Presiden Joko Widodo (Jokowi). Menurutnya, Presiden Jokowi mendukung penuh target KPK untuk memperbaiki IPK.

Thursday, October 27, 2016

Wuzz, Internet 100 Gigabyte per detik akan Hadir di Indonesia

image source: google.com

Sudahkah anda menikmati cepatnya berseancar di Internet dengan kecepatan 4G LTE? Apakah anda sudah merasa sangat puas dengan kecepatan tersebut? Tunggu dulu, kecepatan 4G LTE tersebut 'hanya' sebatas pada kecepatan 20 Mbps hingga 50 Mbps saja rata-ratanya. Bagaimana dengan internet berkecapatan 100 Gbps? Ya Gigabyte per detik! Tentu ini akan jauh lebih cepat dan meningkatkan kepuasan dalam berselancar di dunia maya.

Dengan akses internet yang lebih cepat dan stabil tentunya akan jauh lebih nyaman dan menambah manfaat bila digunakan untuk hal-hal positif. Selain komunikasi yang akan lebih luas dan cepat, kreativitas juga dapat terpacu.

Internet berkecepatan 100 Gbps ini dikabarkan akan hadir dalam 'waktu dekat' dengan adanya peluncuran Satelit Telkom-4. Satelit Telkom-4 dipastikan lepas landas pada 2018 mendatang. Pengganti dari Satelit Telkom-1 itu akan menggunakan teknologi broadband satelit yang bisa memancarkan akses Internet 100 Gbps dari angkasa. Gigabyte per Second !

Menurut President Director TelkomMetra, Teguh Wahyono, persiapan untuk peluncuran satelit ini tengah digodok agar nantinya bisa lepas landas dalam waktu dua tahun lagi dari sekarang.

“Satelit Telkom-4 meluncur 2018. Tapi persiapannya dari sekarang karena untuk order satelit itu butuh waktu dua tahun,” ujarnya.

Dijelaskan olehnya, strategi Telkom terus berinvestasi di teknologi satelit dikarenakan ada ribuan pulau di Indonesia yang terpisah oleh lautan dan belum bisa seluruhnya dijangkau oleh infrastruktur kabel dan seluler.Apalagi dari catatan Telkom, ada sekitar 30 juta rumah tangga yang belum tersentuh akses Internet di Indonesia dan hanya bisa dilayani melalui satelit karena posisi mereka ada di wilayah terpencil, remote area.


Untuk saat ini, satelit Telkom yang ada baru mampu menyediakan akses Internet maksimal 2 Mbps untuk download dan maksimal 0,5 Mbps untuk upload. Dengan perkembangan Internet yang semakin kaya konten multimedia, tentu saja akses itu bisa dibilang lambat. Telkom  menyadari sepenuhnya akan hal itu.

SATELIT TELKOM 4 DI BUAT SSL SPACE SYSTEMS LORAL | satelitindonesia.com
“Kalau sekarang kan masih pakai transponder. Tapi nanti di Satelit Telkom-4 kan kita pakai teknologi broadband satellite. Jadi langsung sekian giga bandwidth-nya. Bisa sampai 100 Gbps,” jelas Teguh.

Sementara belum lama ini, Space Systems Loral (SSL) mengumumkan telah ditunjuk oleh Telkom sebagai penyedia satelit Telkom-4 yang akan digunakan untuk layanan fixed satellite di Indonesia, India, dan Asia Tenggara.

“Bagi SSL itu adalah kali ketiga mendapat pesanan dari perusahaan asal Indonesia. Kami bangga bisa berkontribusi untuk pembangunan infrastuktur di Indonesia dan kawasan Asia,” ungkap President SSL, John Celli.

Satelit Telkom-4 rencananya akan menggunakan platform SSL 1300 dan didesain untuk operasional selama 15 tahun. Direktur Utama Telkom, Alex Janangkih Sinaga, mengatakan satelit dibutuhkan sebagai teknologi pelengkap karena Indonesia terdiri dari ribuan pulau. “Selain satelit kami gunakan kabel laut sebagai backbone menghubungkan pulau-pulau di Indonesia,” katanya.

Sementara itu, Direktur Jaringan Telkom Abdus Somad Arief mengungkapkan, pada kuartal keempat 2016, akan diluncurkan satelit Telkom 3S. “Kalau Satelit Telkom-4 ini di 2018. Mohon doanya agar semua lancar,” katanya.

Persiapan Satelit Telkom-3S

Sekadar diketahui, saat ini Telkom juga tengah menyiapkan peluncuran satelit yang akan mengadopsi C-Band dan Ku-Band, yakni Telkom 3S (substitution). Telkom 3S akan menempati slot orbit 118 derajat BT, sekaligus menggantikan satelit Telkom 3 yang gagal mencapai orbit pada Agustus 2012.

Telkom telah meneken perjanjian pembuatan satelit Telkom 3S dengan perusahaan asal Prancis-Italia, Thales Alenia Space senilai US$199,7 juta atau Rp2,62 triliun pada 14 Juli 2014.

Satelit tersebut direncanakan berkapasitas 42 transponder yang terdiri dari 32 transponder C-Band dan 10 transponder Ku-Band. Telkom 3S dijadwalkan meluncur pada akhir 2016 atau awal 2017.

Sementara untuk Telkom-4 diperkirakan butuh investasi senilai US$200 juta atau Rp2,6 triliun dan akan diluncurkan pada 2018. Satelit Telkom-4 akan menggantikan satelit Telkom-1 yang masa orbitnya berakhir pada 2018.

Satelit Telkom-1 diluncurkan pada 13 Agustus 1999 dan menempati slot orbit 108 derajat BT. Satelit tersebut diproduksi Lockhead Martin dari Amerika Serikat dan peluncurannya dilakukan oleh Arianespace dari Eropa. Satelit Telkom 1 memiliki kapasitas 24 transponder, dan beroperasi pada frekuensi C-Band.

Satelit Telkom-4 direncanakan membawa 60 transponder, sebanyak 36 transponder akan disewakan untuk kebutuhan domestik. Sedangkan sisa 24 transponder akan dipasarkan untuk India.

Per September 2015, Telkom memiliki nilai aset satelit, stasiun bumi dan peralatannya sekitar Rp6,6 triliun. Pendapatan sewa tranponder satelit mencapai Rp423 miliar, naik 21,5% dibanding periode sama tahun lalu Rp348 miliar.

Telkom masih memiliki kantong tebal untuk mendanai pengadaan satelit karena memiliki opsi Penawaran Umum Berkelanjutan (PUB) obligasi senilai Rp5 triliun. Obligasi itu merupakan sisa dari PUB pada 2015 yang mencapai Rp12 triliun.

Dari hasil bersih obligasi tahun lalu, Telkom mengalokasikan dana Rp6,06 triliun untuk pengembangan usaha dan sisanya Rp921,91 miliar untuk akuisisi.

Kebutuhan Transponder Satelit

Ketua Asosiasi Satelit Seluruh Indonesia (ASSI), Dani Indra, mengatakan Indonesia masih kekurangan kapasitas satelit. Ia memperkirakan kebutuhan transponder untuk menyalurkan akses Internet lewat very small aperture terminal (VSAT) mencapai 250 transponder pada 2015.

Namun, kapasitas transponder satelit Indonesia yang ada saat ini hanya 100 transponder. Sisanya menggunakan satelit milik asing. Menurut Dani, pertumbuhan industri satelit melambat, hanya berkisar 3-5% per tahun. Tren ini diprediksi berlanjut hingga 2020.

Untungnya, kata Dani, dalam waktu dekat Indonesia akan meluncurkan dua satelit baru demi menghadapi kekurangan kapasitas.  Satelit BRISat dijadwalkan meluncur pada pertengahan tahun ini. Satelit milik PT Bank BRI Tbk ini memiliki 45 transponder.

Sedangkan Telkom akan meluncurkan satelit 3S pada akhir tahun ini. Satelit dengan 49 transponder merupakan satelit pengganti Telkom 3 yang hilang orbit pada 2012. Sementara itu, Teguh Wayoni mengestimasi nilai bisnis satelit dapat mencapai Rp3 triliun setiap tahunnya. Perhitungannya, apabila setiap transponder senilai US$900.000 atau Rp11,8 miliar dan dikalikan 250 transponder.



Ayo LIKE dan SHARE!

Tips Kompres Video tanpa Mengurangi Kualitas Video

image source: google.com

Seiring perkembangan teknologi, kini masyarakat pengguna gadget mulai menggunakan media video sebagai penyampaian maupun sarana mengabadikan momen. Dapat menangkap gambar hidup yang disertai dengan suara adalah kelebihan video dibandingkan dengan foto. Alasan tersebutlah yang digunakan oleh orang-orang yang terkadang lebih memilih untuk merekam suatu momoen tertentu dalam bentuk video dibandingkan dengan dalam bentuk foto.

Video-video hasil perekaman dengan gadget kini jauh lebih mudah untuk disimpan dibandingkan dengan penggunaan kaset-kaset seperti pada era sebelumnya. Kini hanya dengan sebuah flashdisk yang hanya seukuran jari tangan atau micro SD card yang hanya seukuran kuku manusia saja, ratusan atau mungkin ribuan video dapat tersimpan sekaligus di dalamnya dan tentunya mudah untuk dibawa-bawa atau disimpan.

Namun penyimpanan video ini bukannya tanpa kendala. Salah satu kendala dalam peyimpanan video setelah direkam menggunakan smartphone, action cam, atau device perekam video lainnya yaitu besarnya ukuran file. Apalagi bila video tersebut direkam dalam resolusi tinggi seperti HD atau mungkin 4K, ukuran file yang dihasilkan pastilah sangat besar nantinya. Ukuran file yang besar ini menghambat kita untuk dapat menyimpan banyak video dalam satu memory card tertentu. Saat storage dari memori penuh, pilihan yang dapat kita lakukan untuk bisa menyimpan video baru yaitu menghapus file video yang lama, atau memindahkan terlebih dahulu video tersebut ke penyimpanan lain seperti cloud storage.

Untuk dapat mengatasi hal tersebut, salah satu soulusi yang dapat kita ambil yaitu dengan mengkompres ukuran file video tersebut. Kekhawatiran yang pertama kali timbul di benak kita saat memutuskan untuk mengkompres suatu video tentunya adalah kualitas video tersebut akan menurun drastis dan mengecewakan untuk ditonton kembali tidak seperti file video aslinya.



Namun kekhawatiran tersebut dapat terobati, di sini saya akan membagikan tips bagaimana mengkompres ukuran file video hingga berkurang lebih dari 50% ukuran aslinya, ya, lebih dari setengah ukuran file video tersebut akan berkurang, tanpa mengurangi secara drastis kualitas dari video tersebut  menggunakan aplikasi HandBrake. What is handbrake? HandBrake is a tool for converting video from nearly any format to a selection of modern, widely supported codecs.

1. Pertama-tama download dulu aplikasi HandBrake di halaman resmi mereka: Download HandBrakeIt's Free! Kemudian install hingga selesai.


2. Open aplikasi HandBrake yang telah kalian install tersebut. HandBrake yang saya gunakan ini adalah versi 0.10.2.7286. Tampilan awalnya adalah sebagai berikut: 


3. Untuk memulai penggunaannya, klik "Source" > kemudian pilih "Folder" untuk mengkompres satu folder video sekaligus. Atau pilih "File" untuk mengkompres satu video yang dipilih saja. Kali ini saya memilih "File" untuk menunjukkan contoh mengkompres 1 video.


klil "Source"

pilih "File"

4. Pilih video yang ingin dikompres. Saya memilih satu video berdurasi 1 menit 35 detik dengan ukuran file asli sebesar 228 MB



5. Setting-an pertama yang diubah pada tab "Picture" yaitu:
  • ceklis "Web Optimized"
  • ubah "Anarmophic" dengan pilih "None"
  • ubah "Modulus" menjadi "16"
  • ceklis "Keep Aspect Ratio"
  • ubah "Height" menjadi "720"

6. Selanjutnya ke tab "Video" dan lakukan setting-an berikut:
  • pilih "Constant Framerate"
  • ubah "Constant Quality" menjadi "23"
  • ubah "x264 Preset" menjadi "Very Slow"


7. Setting-an terakhir yaitu pada tab "Audio":
  • Ubah "Bitrate" menjadi "128"

8. Setelah melakukan semua step-step di atas, klik "Start" untuk langsung memulai proses kompres video. Tunggu hingga proses selesai. Cepat atau lambatnya proses sangat tergantung dengan kemampuan spesifikasi komputer masing-masing.



Finish! That's all! Segera  setelah proses kompres, kalian langsung dapat membandingkan ukuran file video yang tentunya akan turun secara drastis! Sebagai contoh video yang saya kompres tersebut, berikut adalah hasilnya:


Ukuran video berdurasi 1 menit 35 detik tersebut menyusut menjadi hanya 69.4 MB dari sebelumnya 228 MB!. Meski ukuran video tersebut menyusut, namun kualitas gambar tidak berbeda jauh dibandingkan dengan sebelum dikompres. Berikut perbandingannya:




sebelum
sesudah
Selamat mencoba!



jangan lupa like and share!